Batimetri Membuka Fakta, Normalisasi Berkali-kali, Batimetri Berkata Lain: Ada Apa dengan Kolong Retensi Kacang Pedang?

Pangkalpinang, 11 Juli 2026 Hasil pengukuran batimetri terhadap Kolong Retensi Kacang Pedang memunculkan pertanyaan besar yang tidak bisa lagi dijawab dengan retorika. Di atas kertas, kolong kacang pedang ini telah beberapa kali menjalani pekerjaan normalisasi. Namun, di bawah permukaan air, apa boleh buat data justru menunjukkan kondisi yang berbeda, dasar kolong masih relatif dangkal sehingga kapasitas tampungnya belum sesuai dengan fungsi ideal sebagai kolam retensi.

Temuan ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Sebab, tujuan utama normalisasi adalah mengurangi sedimentasi dan meningkatkan volume tampungan air. Jika hasil batimetri menunjukkan kondisi yang belum memadai, maka pertanyaan yang muncul bukanlah berlebihan, melainkan wajar.   Apakah pekerjaan normalisasi selama ini telah mencapai sasaran yang direncanakan?

“Kalau normalisasi sudah berkali-kali dilakukan, tetapi hasil pengukuran batimetri masih menunjukkan Kolong Retensi Kacang Pedang dangkal, maka yang perlu dinormalisasi bukan hanya kolongnya, tetapi juga cara kita mengevaluasi setiap pekerjaan yang telah dilaksanakan, data batimetri tidak bisa diajak berkompromi, dia berbicara apa adanya.  Ketika data menunjukkan pendangkalan, maka narasi keberhasilan harus berani diuji dengan fakta.” Ujar Gusti.

Normalisasi tidak boleh dipandang sekadar sebagai kegiatan rutin yang selesai ketika alat berat meninggalkan lokasi. Keberhasilannya harus dibuktikan melalui data teknis, seperti survei batimetri sebelum dan sesudah pekerjaan, perhitungan volume sedimen yang diangkat, serta peningkatan kapasitas tampung kolam. Tanpa indikator tersebut, keberhasilan hanya menjadi klaim yang sulit diverifikasi.

Lebih memprihatinkan lagi apabila evaluasi baru dilakukan setelah kondisi kolong kembali dangkal. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem pemantauan sedimentasi dan pemeliharaan berkala perlu ditinjau ulang. Pengelolaan kolam retensi tidak cukup mengandalkan pengerukan sesekali, melainkan membutuhkan pengawasan yang berkelanjutan dan berbasis data.

Gusti menambahkan, “saya sangat bersyukur sekali dan sangat berterima kasih kepada Saudaraku Edi Irawan dan tim, berkat beliau kedalaman dari Kolam retensi kacang pedang dapat diketahui kedalamannya, beliau  cerdas dan kritis, alat Batimetri ini dibuat dengan dana sendiri tanpa ada bantuan sepersenpun murni dana pribadi, berkat Kerjasama tim yang solid dan saling memahami satu sama lain, maka terciptalah alat Batimetri ini, hasilnya wah sungguh sangat mengagumkan, ternyata ada orang pintar di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini, evaluasi kapasitas tampung kolam retensi kacang pedang Kota Pangkalpinang dapat diketahui kedalamannya.

“Kalau kapasitas tampung belum sesuai harapan, jangan buru-buru menyebut pekerjaan berhasil. Infrastruktur publik harus dinilai dari fungsinya, bukan hanya dari selesainya kontrak.” Tegas Gusti.

Temuan batimetri juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, hingga serah terima pekerjaan. Apakah target kedalaman benar-benar tercapai? Apakah volume sedimen yang diangkat sesuai dengan desain? Apakah pengawasan teknis telah memastikan hasil akhir sesuai spesifikasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak dijawab secara terbuka demi menjaga kepercayaan publik.

“Evaluasi tidak boleh berhenti pada dokumen administrasi. Pengukuran batimetri menunjukkan bahwa kondisi lapangan harus menjadi tolok ukur utama dalam menilai keberhasilan normalisasi.” Tambah Edi Irawan.

Karena itu, hasil pengukuran batimetri seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen teknis. Pemerintah daerah perlu menjadikannya sebagai dasar penyusunan langkah korektif yang konkret, antara lain melakukan audit teknis terhadap hasil normalisasi yang pernah dilaksanakan, memperbarui data kapasitas tampung kolam, menyusun program pengendalian sedimentasi jangka panjang, serta membuka hasil evaluasi kepada masyarakat secara transparan.

Kini, data batimetri telah berbicara. Tantangannya adalah bagaimana semua pihak meresponsnya dengan sikap terbuka dan bertanggung jawab. Jangan sampai normalisasi hanya menjadi rutinitas proyek, sementara fungsi kolam retensi sebagai benteng pengendali banjir justru terus mengalami penurunan.

Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan. Yang diharapkan adalah keberanian untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan memastikan bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan benar-benar menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa sering normalisasi dilakukan, melainkan seberapa besar kapasitas tampung kolam benar-benar pulih dan mampu mengurangi risiko banjir bagi warga.

Wandera

Tinggalkan komentar